KITA MEMANG SENDIRI

Semua yang mengenalku mungkin berkata bahwa aku bukanlah orang yang bisa hidup sendiri, aku adalah orang yang selalu butuh orang lain, dan aku tak bisa jauh dari keramaian. Aku pun mengakuinya, memang beginilah aku. Sampai ada seorang teman yang menyadarkanku akan sesuatu, bahwa kita lahir, hidup, dan mati hakikatnya adalah sendiri. Teman tadi menganalogikan bahwa kehidupan kita layaknya sebuah pulau di tengah samudra, sendiri dan jauh dari pulau2 lainnya. Suatu hari mungkin akan ada serombongan orang yang datang ke pulau itu, mampir istilahnya. Tapi tak kan ada orang yang selamanya ada di pulau itu, selain kita tentunya. Terlepas dari berapa lama orang2 itu mampir, pada akhirnya mereka akan pergi dan meninggalkan pulau itu sendiri. Seperti itulah hidup kita. Seperti pulau yang nantinya akan ditinggalkan. Orang2 yang datang itu layaknya orangtua, kawan2, saudara, sahabat, bahkan mungkin pasangan kita nantinya. Tapi percayalah, satu per satu mereka akan meninggalkan kita. Tapi yang musti kita ingat, selama mereka ada di dekat kita, kasihilah, hormatilah, dan sayangilah mereka sebagaiman mestinya, selayaknya pemilik pulau yang melayani para pendatang di pulaunya.

bahwa-kita-sendiri

About Uyunk Aminy


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: